Puasa dan Diabetes

Salah satu faktor resiko terkena katarak adalah diabetes mellitus, keadaan diabetes mellitus dapat mempercepat terjadinya proses katarak.

Menurut studi EPIDIAR (Epidemiology of Diabetes and Ramadhan) menunjukkan bahwa dari 12.243 pasien penyandang diabetes dari 13 negara Islam, 23% pasien diabetes tipe 1 dan 79% pasien diabetes tipe 2. Diperkirakan 40 hingga 50 juta orang penyandang diabetes di seluruh dunia menjalani puasa saat Ramadhan.

Perubahan pada Diabetes Saat Puasa

Sekresi insulin yang memfasilitasi penyimpanan glukosa di hati dan otot sebagai glikogen, dirangsang akibat adanya aktivitas makan pada orang sehat. Selama puasa, kadar glukosa plasma cenderung rendah sehingga menurunkan sekresi insulin. Bersamaan dengan kondisi ini, kadar glukagon dan katekolamin meningkat yang merangsang pemecahan glikogen, dan pada saat yang sama glukoneogenesis bertambah.

Selama puasa, simpanan glikogen akan berkurang dan rendahnya kadar insulin plasma memicu pelepasan asam lemak dari sel adiposit. Oksidasi asam lemak ini menghasilkan keton sebagai bahan bakar metabolisme oleh otot rangka, otot jantung, hati, ginjal dan jaringan lemak (adipose). Hal ini menghemat penggunaan glukosa yang memang terutama ditujukan untuk otak dan eritrosit. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa umumnya tidak didapatkan masalah-masalah besar pada pasien diabetes, baik diabetes tipe 2 maupun tipe 1, yang menjalankan puasa. Asupan kalori umumnya berkurang meski ada juga yang tidak berubah, dan didapatkan penurunan berat badan selama puasa. Selain itu, beberapa studi menemukan tidak terdapat perubahan berarti kadar glukosa puasa dan HbA1c.

Risiko Terkait Puasa pada Diabetes

Studi EPIDIAR menemukan peningkatan komplikasi pada pasien diabetes saat berpuasa. Tetapi studi lain menyimpulkan tidak terjadi peningkatan komplikasi bermakna pada diabetes saat berpuasa.

a. Hipoglikemia

Dalam studi tersebut juga didapatkan peningkatan risiko hipoglikemia berat sebesar 4,7 kali lipat pada pasien diabetes tipe 1 dan 7,5 kali lipat pada pasien diabetes tipe 2. Hipoglikemia terjadi lebih sering pada pasien dengan perubahan dosis antidiabeti oral dan insulin, dan pada pasien yang melakukan perubahan gaya hidup yang signifi kan selama puasa.

b. Hiperglikemia

Pada pasien diabetes yang menjalani puasa, pengendalian kadar glukosa darah dapat memburuk, membaik, atau tidak berubah. Studi EPIDIAR menunjukkan peningkatan lima kali lipat risiko terjadi hiperglikemia berat pada pasien diabetes tipe 2 dan tiga kali lipat pada pasien diabetes tipe 1 yang menjalani puasa Ramadhan. Diperkirakan kondisi hiperglikemia ini akibat pengurangan berlebihan dosis obat, yang sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah hipoglikemia, juga karena peningkatkan pola konsumsi selama bulan puasa.

c. Ketoasidosis diabetikum

Pasien diabetes tipe 1 yang menjalankan puasa Ramadhan mengalami peningkatan risiko komplikasi ini, khususnya jika pengendalian glukosanya buruk sebelum Ramadhan. Risiko ini makin meningkat dengan adanya pengurangan berlebihan dosis pengobatan.

d. Dehidrasi dan trombosis

Saat puasa, terjadi pengurangan asupan cairan jangka panjang (11-16 jam) yang berisiko dehidrasi. Kondisi dehidrasi ini dapat diperberat dengan perspirasi (pengeluaran keringat) berlebihan dikaitkan dengan kondisi cuaca terik dan aktivitas fisik. Selain itu, hiperglikemia dapat mencetuskan terjadinya diuresis osmosis yang dapat menyebabkan deplesi cairan dan elektrolit. Hipotensi ortostatik dapat terjadi, khususnya pada mereka dengan neuropati otonom sehingga risiko sinkop, jatuh atau fraktur tulang penting diperhatikan. Kontraksi ruang intravaskuler dapat memicu kondisi hiperkoagulabel; peningkatan viskositas darah akibat dehidrasi ini meningkatkan risiko thrombosis dan stroke. Meski begitu, insidens perawatan rumah sakit akibat penyakit koroner atau stroke tidak meningkat selama Ramadhan.

Manajemen Pasien Diabetes Saat Puasa

Lima hal penting dalam pengelolaan pasien diabetes yang menjalankan puasa, yakni: (1) manajemen bersifat individual; (2) pemantauan kadar glukosa darah secara teratur; (3) nutrisi tidak boleh berbeda dari kebutuhan nutrisi harian; (4) olahraga tidak boleh berlebihan. Sholat tarawih (sholat dengan jumlah rakaat cukup banyak) setiap malam di bulan Ramadhan, dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari olahraga yang dianjurkan; dan (5) membatalkan puasa. Pasien harus selalu diajari agar segera membatalkan puasa jika terdapat gejala hipoglikemia atau bila dalam kondisi hiperglikemia.

Pasien diabetes yang tidak dianjurkan berpuasa adalah mereka dengan kadar glukosa belum terkendali, perempuan hamil dengan diabetes, mereka dengan riwayat ketoasidosis atau koma hiperosmolar, dan pasien-pasien dengan komplikasi serius, seperti penyakit jantung koroner, gagal ginjal kronik, pasien diabetes usia lanjut, dan pasien dengan riwayat berulang hipoglikemia atau hiperglikemia sebelum dan selama puasa Ramadhan.

Lihat Jadwal Dokter