Usianya Baru 25 Tahun. Mengapa Ia Sudah Mengalami Glaukoma?

Ketika mendengar kata glaukoma, kebanyakan orang langsung membayangkan penyakit yang hanya menyerang lansia. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah karena risiko glaukoma meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, sebuah laporan kasus yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahwa glaukoma juga dapat terjadi pada usia yang jauh lebih muda.

Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke dokter mata karena penglihatannya mulai kabur pada mata kiri. Keluhan tersebut tidak disertai riwayat benturan, kecelakaan, ataupun infeksi mata. Awalnya, gejalanya tampak seperti gangguan penglihatan yang mungkin dianggap ringan. Namun hasil pemeriksaan justru mengungkap kondisi yang jauh lebih serius.

Tekanan di dalam bola mata kirinya mencapai 46 mmHg, lebih dari dua kali lipat kisaran tekanan bola mata normal. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter menemukan adanya kerusakan pada saraf optik yang mengarah pada diagnosis Juvenile Open-Angle Glaucoma, yaitu salah satu jenis glaukoma yang dapat muncul pada usia muda.

Yang membuat kasus ini semakin menarik adalah adanya riwayat glaukoma pada anggota keluarga pasien. Informasi tersebut menjadi petunjuk penting bahwa faktor keturunan dapat berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma.

Mengapa Glaukoma Bisa Terjadi pada Usia Muda?

Meskipun lebih sering ditemukan pada usia lanjut, glaukoma bukanlah penyakit yang hanya menyerang lansia. Dalam kondisi tertentu, glaukoma dapat berkembang pada usia produktif, bahkan pada anak-anak atau bayi dengan jenis glaukoma yang berbeda.

Pada kasus ini, dokter menemukan adanya faktor genetik yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit. Namun, tidak semua glaukoma usia muda disebabkan oleh faktor keturunan. Setiap pasien memiliki penyebab dan perjalanan penyakit yang dapat berbeda.

Yang perlu dipahami adalah glaukoma sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang khas. Karena itulah banyak penderita baru mengetahui penyakitnya setelah terjadi kerusakan pada saraf mata.

Mengapa Pemeriksaan Mata Sangat Penting?

Tekanan bola mata yang tinggi memang merupakan salah satu tanda penting, tetapi dokter tidak menegakkan diagnosis glaukoma hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan.

Untuk memastikan kondisi pasien, dokter juga mengevaluasi bentuk saraf optik, lapang pandang, serta hasil pemeriksaan penunjang lainnya. Melalui kombinasi berbagai pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan tingkat keparahan penyakit sekaligus memilih penanganan yang paling sesuai.

Dalam laporan kasus ini, pasien kemudian menjalani operasi glaukoma untuk membantu menurunkan tekanan bola mata. Setelah tindakan dilakukan, tekanan bola mata berhasil menurun. Namun, kasus ini juga menunjukkan bahwa glaukoma memerlukan pemantauan jangka panjang karena kondisi mata dapat berubah seiring waktu.

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Kasus Ini?

Kasus ini memberikan pelajaran penting bahwa glaukoma tidak selalu datang pada usia lanjut. Usia muda bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit mata yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.

Bagi Anda yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat glaukoma, melakukan pemeriksaan mata secara berkala merupakan langkah yang bijaksana. Pemeriksaan sejak dini memberi kesempatan bagi dokter untuk menemukan perubahan pada mata sebelum kerusakan saraf optik bertambah berat.

Di Poli Glaukoma RS Mata Achmad Wardi, evaluasi glaukoma dilakukan secara menyeluruh menggunakan pemeriksaan sesuai indikasi medis, seperti Tonometri/NCT, OCT, Humphrey Visual Field, Foto Fundus, dan Funduscopy. Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan terapi yang paling sesuai, baik berupa pengobatan, tindakan laser, maupun operasi sesuai kondisi masing-masing pasien. Penanganan dilakukan oleh tim dokter spesialis mata, termasuk dr. Widya Anandita, Sp.M., MARS, yang memiliki kompetensi di bidang glaukoma melalui fellowship di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Referensi:

  1. Case Report: Reversal and subsequent return of optic disc cupping in a myocilin (MYOC) gene-associated severe Juvenile Open-Angle Glaucoma (JOAG) patient

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these