Umumnya saat memeriksa kesehatan tubuh, dokter tidak hanya melihat hasil tekanan darah untuk menentukan kondisi seseorang. Bila diperlukan, dokter juga akan mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan laboratorium agar memperoleh gambaran yang utuh.
Hal yang sama berlaku pada glaukoma.
Meskipun tekanan bola mata merupakan salah satu faktor penting, dokter tidak dapat memastikan seseorang menderita glaukoma hanya dari satu angka. Diagnosis glaukoma memerlukan serangkaian pemeriksaan yang saling melengkapi untuk menilai kondisi saraf optik dan fungsi penglihatan secara menyeluruh.
Pendekatan ini membantu memastikan diagnosis lebih akurat sekaligus menentukan penanganan yang paling sesuai.
Mengapa Diagnosis Glaukoma Tidak Bisa Dilakukan dengan Satu Tes?
Glaukoma merupakan penyakit yang merusak saraf optik secara perlahan. Pada tahap awal, kerusakan tersebut sering kali belum menimbulkan keluhan sehingga tidak mudah dikenali hanya melalui pemeriksaan rutin biasa.
Oleh karena itu, dokter akan menggabungkan beberapa informasi, antara lain:
- Keluhan yang dirasakan pasien.
- Riwayat kesehatan dan riwayat keluarga.
- Hasil pemeriksaan mata.
- Kondisi saraf optik.
- Fungsi lapang pandang.
Semua informasi tersebut saling melengkapi untuk membantu menentukan apakah seseorang mengalami glaukoma atau memiliki risiko tinggi untuk mengalaminya.
Pemeriksaan yang Umum Dilakukan untuk Mendeteksi Glaukoma
1. Tonometri (NCT)
Tonometri merupakan pemeriksaan untuk mengukur tekanan di dalam bola mata.
Tekanan bola mata yang tinggi dapat meningkatkan risiko glaukoma, tetapi hasil normal tidak selalu berarti seseorang terbebas dari penyakit ini. Karena itu, tonometri menjadi langkah awal, bukan satu-satunya dasar diagnosis.
Di RS Mata Achmad Wardi, pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan menggunakan Tonometri/NCT sesuai indikasi medis.
2. OCT (Optical Coherence Tomography)
OCT adalah pemeriksaan pencitraan yang menghasilkan gambar beresolusi tinggi dari struktur mata, termasuk lapisan serabut saraf optik.
Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat melihat perubahan yang sangat halus pada saraf optik, bahkan ketika pasien belum merasakan gangguan penglihatan.
Informasi tersebut membantu dokter menilai apakah telah terjadi kerusakan akibat glaukoma serta memantau perkembangannya dari waktu ke waktu.
3. Humphrey Visual Field
Glaukoma sering menyebabkan penyempitan lapang pandang secara bertahap.
Humphrey Visual Field digunakan untuk mengukur seberapa luas area penglihatan seseorang dan mendeteksi adanya bagian lapang pandang yang mulai berkurang.
Hasil pemeriksaan ini juga membantu dokter mengevaluasi apakah pengobatan yang diberikan mampu mempertahankan fungsi penglihatan.
4. Foto Fundus dan Funduscopy
Selain pemeriksaan dengan alat pencitraan, dokter juga perlu melihat kondisi saraf optik secara langsung.
Foto Fundus menghasilkan dokumentasi kondisi retina dan saraf optik, sedangkan Funduscopy memungkinkan dokter mengevaluasi bentuk, warna, serta perubahan pada kepala saraf optik yang menjadi ciri khas glaukoma.
Pemeriksaan ini juga berguna sebagai pembanding saat kontrol berikutnya.
Apakah Semua Pasien Harus Menjalani Semua Pemeriksaan?
Tidak semua pasien harus menjalani semua pemeriksaan tersebut.
Jenis pemeriksaan yang diperlukan akan bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Sebagai contoh, seseorang yang datang hanya untuk skrining mungkin memerlukan pemeriksaan yang berbeda dengan pasien yang telah didiagnosis glaukoma dan sedang menjalani kontrol rutin.
Dokter akan menentukan pemeriksaan yang paling sesuai berdasarkan hasil konsultasi dan evaluasi klinis sehingga pasien tidak menjalani pemeriksaan yang tidak diperlukan.
Apa yang Bisa Anda Lakukan Sebelum Pemeriksaan?
Agar pemeriksaan berjalan lebih optimal, beberapa hal berikut dapat membantu:
- Datang sesuai jadwal yang telah ditentukan.
- Informasikan kepada dokter mengenai riwayat penyakit, penggunaan obat-obatan, atau operasi mata yang pernah dijalani.
- Bila menggunakan kacamata, bawalah saat pemeriksaan.
- Jangan ragu menyampaikan perubahan penglihatan yang dirasakan, meskipun tampak ringan.
Informasi yang lengkap akan membantu dokter memperoleh gambaran kondisi mata secara lebih menyeluruh.
Mengapa Pemeriksaan Berkala Tetap Diperlukan?
Glaukoma merupakan penyakit kronis yang dapat berkembang secara perlahan.
Pada sebagian pasien, perubahan kondisi saraf optik atau lapang pandang baru terlihat setelah dilakukan pemantauan dalam jangka waktu tertentu.
Karena itu, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan ulang secara berkala meskipun hasil pemeriksaan sebelumnya masih baik. Tujuannya adalah mendeteksi perubahan sedini mungkin sehingga terapi dapat disesuaikan apabila diperlukan.
Pemeriksaan Komprehensif untuk Menjaga Penglihatan
Di Poli Glaukoma RS Mata Achmad Wardi, evaluasi glaukoma dilakukan secara komprehensif sesuai indikasi medis. Layanan diagnostik yang tersedia meliputi Tonometri/NCT, OCT, Humphrey Visual Field, Foto Fundus, dan Funduscopy untuk membantu dokter menilai tekanan bola mata, kondisi saraf optik, serta fungsi lapang pandang secara menyeluruh.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan rencana penanganan yang sesuai dengan kondisi setiap pasien. Penanganan dilakukan oleh tim dokter spesialis mata, termasuk dr. Widya Anandita, Sp.M., MARS, yang memiliki fellowship glaukoma dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia serta pengalaman observership di National University Hospital, Singapura.